Selasa, 15 November 2016


Terpancing emosi
Bogor 12 november 2016
Ke marin, sambil menyeruput teh manis panas di rest area jago rawi, saya teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat masuk pintu tol jago rawi (Bogor), Ibu bertanya, “Jam berapa?”. Saya jawab, “Jam 7.00”. Tidak berapa lama, beliau pun terlelap di bangku belakang. Jalanan tidak terlalu ramai, jadi (rasanya) saya menyetir santai. Ketika membayar di pintu tol Pasteur (Bandung), Ibu terbangun dan bertanya, “Jam berapa?”. Saya jawab, “Jam 8.05”. Ibu pun menyahut, “Oooh, jam 9”. Saya balas, “Bukan… Jam 8.05”. Dia tampak kebingungan sendiri
Nope… I’m not proud of it. That is plain stupid.
Sekarang saya menganggap ngebut hanya mengundang maut. Tapi dulu, itu rasanya semacam “pencapaian”. Sekarang saya tahu ngebut itu kesalahan. Tapi dulu, itu suatu bentuk kebanggaan. Butuh waktu untuk belajar dari kesalahan, masih untung tidak keburu mati di jalan.
Meski demikian, ada pelajaran penting di dalamnya.
Ada kalanya orang memacu kendaraan karena ingin mencoba batas kemampuan diri. Namun sering juga alasannya karena terpancing emosi oleh perilaku pengendara lain. Misalnya, ngebut hanya karena tidak terima dipotong jalannya oleh orang lain.
Motif ini tidak hanya dijumpai dalam hal berkendara, tetapi juga dalam banyak segi kehidupan. Di saat bekerja dan bersosialisasi, seringkali kita terpancing oleh perilaku orang lain dan/atau suasana. Suasana yang tidak kondusif atau ketatnya persaingan seringkali menjadi “alasan kuat” kenapa kita tidak berhasil mencapai tujuan. Namun apakah benar suasana dan kompetisi itu berdampak besar terhadap keberhasilan kita?
Suatu hari saya pernah bertanya pada Bapak kenapa dia suka main golf. Beliau menjelaskan, “Golf itu permainan melawan ego kita sendiri. Ketika kita mengayun stick dan memukul bola, apakah lawan kita menghambat? Sama sekali tidak. Sebaliknya, ketika lawan kita memukul bola, apakah kita bisa melakukan sesuatu untuk menahannya? Juga tidak”.
“Tindakan lawan tidak berpengaruh terhadap kita, begitu juga sebaliknya. Tapi ketika lawan bermain dengan baik atau buruk, ada semacam tekanan dalam diri kita yang berpengaruh terhadap konsentrasi dan permainan kita. Di situ kita berlatih untuk bersikap tenang dalam tekanan, adaptif pada berbagai keadaan, dan bertanggung jawab penuh atas apa yang kita lakukan”.
Kemampuan menjaga emosi adalah skill penting dalam meraih keberhasilan. Minimal dalam hal kebut-kebutan, sekarang saya sudah mau “anteng” jalan 80 sd 100 km/jam dan membiarkan mobil lain menyalip dari sebelah kanan
dan sekarang saya sadar mengejar setoran itu tak ada manfaat nya dalam berkendara kebut-kebutan
Pribahasa mengebut mengundang maut...

Kronologi Kericuhan Aksi Bela Islam Tuntut Ahok

Oleh: Ryan hidayatullah
Suara tembakan menggelegar di atas langit Ibu Kota, tepat di Depan Istana. Mobil Barracuda itu menyemburkan cahaya yang bercabang ke atas langit dan kembali bercabang menukik mengkilat keemasan.
“Blush..” asap menyebar melayang-layang menyergap hidung dan mata.
“Dor..” “dug..” Dor..” susulan tembakkan terdengar super keras berdebam. Takbir menggema di segala penjuru di hamparan Jalan Merdeka Barat selemparan batu dari Istana Negara kita. Polisi memegang pentungan dan perisai mulai merangsek maju.
Lampu – lampu mobil baja itu berkelap-kelip. Gemuruh riuh di sana-sini. “Brrrmmmm…” mobil Water Cannon itu mulai menderung menyemburkan ribuan kubik air tak henti-hentinya.
Takbir bercampur haru di tengah hampir satu juta massa Aksi Bela Islam atau Aksi Bela Al-Quran Jumat malam (04/11/2016) tepat pukul 19.30 WIB.
Berdasarkan laporan pandangan mata di lapangan, aksi kericuhan bermula karena ketidak-jelasan Presiden Joko Widodo menemui massa umat Islam yang menuntut penegakkan hukum atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.
Sebelumnya, Bahtiar Nasir, Jurubicara Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) mengabarkan mereka hasil pertemuan dengan Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla bahwa sudah ada komitmen pemerintah memproses Basuki Tjahaja Purnama dalam waktu dua minggu.
Tenggat waktu yang dinilai lama ini rupanya ikut memicu kemarahan massa jutaan orang yang datang hampir dari seluruh propinsi di Indonesia.
“Kenapa Pak Presiden tidak mau menemui kami yang jumlahnya hampir satu juta orang? Sementara jika yang datang itu GIDI pelaku pembakaran Masjid di Tolikara beliau malang mengundang ke Istana?’ ujar seorang pria berbaju putih berjenggot tipis.
Kericuhan lain juga diduga dipicu ulah perwakilan di sudut jauh, yaitu massa  Himpunan Mahasiswa Muslim (HMI) MPO yang sejak aksi turun ke jalan dimulai memancing aparat ke amanan di posisi depan dengan teriakan dan lemparan-lemparan benda, namun Habib Rizieq terus menenangkan massa, bahkan FPI bersusah payah menjaga kepolisian.
Massa mulai panik ketika dimulai tembakan gas air mata di tengah massa.
“Jangan tembak kami, jangan tembak kami,” kata massa dengan tenang. Namun, suara-suara minor itu terkalahkan dengan suara menggelegar yang memenuhi awan. “dor..dor..dor..” Berpuluh-puluh gelegar menggantung di atas langit Jakarta.
Korban gas air mata banyak terjadi di pihak massa Aksi Bela Al-Quran.
Air mata menggeliat tak terasa dari sudut mata. “Ya Rabb…itu kiai dan habib kami ditembaki,” ujar seorang peserta massa melihat mengapa polisi menembaki kea rah mobil yang ditempati para tokoh Islam, kiai dan habaib.
Termauk diantaranya ada KH Bachtiar Nasir, Arifin Ilham, Habib Rizieq Shihab dan beberapa lainnya. Di atas mimbar, Habib Rizieq masih  bergeming dan tetap menenangkan massa.
“Apa salah para ulama kami ya Allah,” lirih massa lainnya. Sementara massa terus menutup hidung dan mengucek mata. Hawa yang memekakkan mata membuat air mata terus berderai. Sebagian lari mencari tempat aman.
Para jurnalis terhenyak, menutup telinga, suara tembakkan yang berseru tak berhenti sekejappun. Semua menepi, mulai mengoleskan secuil odol di kantung-kantung mata dan apasaja yang bisa menjadi pengaman tubuh.
Sebagian membasahi wajahnya dengan air. Gas air mata sudah mengambang di pelataran Medan Merdeka.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar, “teriak para wartawan yang ketakutan.
Sementara itu, di atas pick up, para ulama terus berseru takbir, beristigfar bahkan sempat menyeru melafalkan Kalimat Tauhid. “Lailahailallah..lailahailallha..lailahailallah..” ujar suara Habib Rizieq.
Sementara tembakan gas air mata tak berhenti dan beberapa peserta aksi ada yang tumbang.
Nampaknya, seruan jangan tembak menguap dan sirna di udara malam yang semakin memanas. Satu per satu peserta aksi tumbang, mual, hingga batuk-batuk dan muntah. Nyala keemasan menyala di atas langit, membentuk kabut merah.
Gemuruh semakin hebat. Massa hanya bisa pasrah ditembaki hingga para kiai dan tokoh-tokoh Islam yang  berdiri di mobil komando Aksi Bela Islam. Kalimat takbir, tahlil, tahmid masih terus terlafal. Habib Rizieq bahkan masih berkali-kali menenangkan massa sambal berlafal kalimat tauhid lirih.
Tiba-tiba suara ketukan mikrophone  menggelegar. “Saya Panglima TNI, semua dengarkan saya, komando ada di saya,” ujar Jenderal TNI Gatot berusaha menenangkan suasana di tengah tembakkan yang terus terjadi. “Ini ada Kapolri ingin bicara, coba dengarkan,” kata Panglima TNI menyerahkan mikrophone ke Kapolri.
“Saya Tito Karnavian, Kapolri kalian, kepada setiap anggota kepolisian tolong hentikan tembakan,” kata Jenderal Tito yang datang memerintahkan kepada anggotanya untuk tak menembak. Bukannya mereda, suara tembakan justru semakin banyak.
“Tolong dengarkan saya sebagai Kapolri, hentikan tembakkan sekarang juga,” kata Tito kembali mengulang. 
Namun, imbauannya tak digubris, suara tembakkan masih terus menggelegar. Polisi masih terus menembaki demonstran.
Jam 20.30 WIB suasana makin tak terkendali, massa sebagian mundur dan banyak terluka, terutama kena pengaruh gas air mata.
Pukul 21.00 malam massa umat Islam  menarik diri beristirahat di Masjid Istiqlal, sebagian terus melaku menuju Kantor DPR-MPR Jalan Gatot Subroto - Jakarta untuk menginap dan beristirahat. Sementara itu, suasana sekitar Istana Negara mulai sepi.
Laporan pandangan mata wartawan JITU, Rizki L, M Pizzaro dan Daus