Terpancing
emosi
Bogor
12 november 2016
Ke
marin, sambil menyeruput teh manis panas di rest area jago rawi, saya
teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat masuk pintu tol jago rawi
(Bogor), Ibu bertanya, “Jam berapa?”. Saya jawab, “Jam 7.00”. Tidak berapa
lama, beliau pun terlelap di bangku belakang. Jalanan tidak terlalu ramai, jadi
(rasanya) saya menyetir santai. Ketika membayar di pintu tol
Pasteur (Bandung), Ibu terbangun dan bertanya, “Jam berapa?”. Saya jawab, “Jam
8.05”. Ibu pun menyahut, “Oooh, jam 9”. Saya balas, “Bukan… Jam 8.05”. Dia
tampak kebingungan sendiri
Nope… I’m not proud of it. That is plain stupid.
Sekarang
saya menganggap ngebut hanya mengundang maut. Tapi dulu, itu rasanya
semacam “pencapaian”. Sekarang saya tahu ngebut itu kesalahan. Tapi dulu, itu
suatu bentuk kebanggaan. Butuh waktu untuk belajar dari kesalahan, masih untung
tidak keburu mati di jalan.
Meski
demikian, ada pelajaran penting di dalamnya.
Ada
kalanya orang memacu kendaraan karena ingin mencoba batas kemampuan diri.
Namun sering juga alasannya karena terpancing emosi oleh perilaku
pengendara lain. Misalnya, ngebut hanya karena tidak terima dipotong
jalannya oleh orang lain.
Motif ini
tidak hanya dijumpai dalam hal berkendara, tetapi juga dalam banyak segi kehidupan. Di
saat bekerja dan bersosialisasi, seringkali kita terpancing oleh perilaku orang
lain dan/atau suasana. Suasana yang tidak kondusif atau ketatnya persaingan
seringkali menjadi “alasan kuat” kenapa kita tidak berhasil
mencapai tujuan. Namun apakah benar suasana dan kompetisi itu berdampak
besar terhadap keberhasilan kita?
Suatu
hari saya pernah bertanya pada Bapak kenapa dia suka main
golf. Beliau menjelaskan, “Golf itu permainan melawan ego kita sendiri. Ketika kita mengayun stick dan memukul bola, apakah lawan kita
menghambat? Sama sekali tidak. Sebaliknya, ketika lawan kita memukul bola,
apakah kita bisa melakukan sesuatu untuk menahannya? Juga tidak”.
“Tindakan
lawan tidak berpengaruh terhadap kita, begitu juga sebaliknya. Tapi ketika
lawan bermain dengan baik atau buruk, ada semacam tekanan dalam diri kita yang
berpengaruh terhadap konsentrasi dan permainan kita. Di situ kita berlatih
untuk bersikap tenang dalam tekanan, adaptif pada berbagai keadaan, dan
bertanggung jawab penuh atas apa yang kita lakukan”.
Kemampuan
menjaga emosi adalah skill penting dalam meraih keberhasilan. Minimal dalam hal
kebut-kebutan, sekarang saya sudah mau “anteng” jalan 80 sd 100 km/jam dan
membiarkan mobil lain menyalip dari sebelah kanan
dan sekarang saya sadar mengejar setoran itu tak ada manfaat nya dalam berkendara kebut-kebutan
dan sekarang saya sadar mengejar setoran itu tak ada manfaat nya dalam berkendara kebut-kebutan
Pribahasa
mengebut mengundang maut...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar